MUARA ENIM, RUBRIKTERKINI — Berawal dari kegemaran menggambar, Syafira Dese Novianti SM (22) kini mampu menghasilkan pendapatan dari batik sekaligus mengantarkannya menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.
Perjalanan Syafira mengenal dunia batik bermula ketika dirinya diajak Ibu Eka untuk bergabung dalam kegiatan membatik di Rumah Kreatif Boek Khaman binaan PT Pertamina, Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Saat pertama kali bergabung, Syafira tidak langsung terlibat dalam proses membatik menggunakan canting. Kemampuannya menggambar justru menjadi modal utama untuk mengembangkan beragam desain dan motif batik.
Latar belakang pendidikan di bidang desain saat menempuh sekolah menengah kejuruan (SMK) membuat Syafira memiliki bekal keterampilan yang mendukung kreativitasnya.
“Awalnya bukan membatik, tetapi lebih ke desain. Saya membuat desain seluruh corak dan motif. Setelah cukup lama, baru mulai terlibat dalam proses pembuatannya,” ujar Syafira.
Ia mengaku, sejak awal lebih banyak mengandalkan kemampuan melukis untuk menuangkan ide ke dalam motif batik. Penggunaan canting hanya dilakukan sesekali, sementara proses pembuatan batik juga melibatkan teknik lain sesuai kebutuhan desain.
Kesempatan tersebut menjadi awal perjalanan Syafira dalam menekuni kerajinan batik. Berbekal keterampilan yang dimiliki, ia perlahan mengembangkan kemampuannya sekaligus memperoleh penghasilan dari hasil karya.
Dari aktivitas membatik itu, Syafira menerima bayaran sekitar Rp50.000 per meter kain. Penghasilan yang diperolehnya bergantung pada jumlah kain yang dapat dikerjakan.
Di sela-sela kesibukan kuliah, ia memanfaatkan waktu libur untuk menyelesaikan pekerjaan membatik. Dalam sehari, Syafira mampu mengerjakan sekitar dua hingga empat meter kain.
Jika dikalkulasikan, penghasilan dari kegiatan tersebut dapat mencapai ratusan ribu rupiah dalam sepekan, bergantung pada jumlah kain yang berhasil diselesaikan.
Bagi Syafira, pendapatan tersebut bukan sekadar tambahan uang saku. Hasil membatik turut membantunya memenuhi kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan, terutama biaya tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari.
“Kalau dari hasil batik, pertama saya tabung untuk biaya kos. Setelah itu, sisanya untuk jajan dan kebutuhan sehari-hari. Kalau untuk biaya kuliah, saya juga mendapatkan beasiswa dari kampus,” tuturnya dengan nada lembut.
Meski biaya kuliahnya turut terbantu melalui beasiswa, Syafira merasakan manfaat besar dari keterlibatannya di Rumah Kreatif Boek Khaman. Kegiatan membatik memberinya kesempatan untuk mandiri secara finansial sekaligus mengembangkan keterampilan yang telah dimiliki sejak sekolah.
Ia menjelaskan, dukungan terhadap pengembangan batik di Rumah Kreatif Boek Khaman turut membuka peluang mendapatkan lebih banyak pesanan. Hal itu memberikan dampak positif bagi para perajin, termasuk dirinya.
Menurut Syafira, semakin dikenalnya batik hasil kreasi Rumah Kreatif Boek Khaman membuat produk mereka semakin diminati. Pesanan yang meningkat pun menjadi kesempatan bagi para perajin untuk memperoleh penghasilan dari keterampilan yang dimiliki.
Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi sumber penghidupan apabila dikembangkan secara konsisten.
Ia juga menilai keterlibatannya dalam kegiatan membatik tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi memperluas pengalamannya dalam mengolah desain, mengenal karakter motif, serta memahami proses pembuatan batik.
Menariknya, Syafira mengaku tidak pernah secara khusus merencanakan untuk menjadikan batik sebagai sumber penghasilan. Semua bermula dari kegemarannya menggambar dan ajakan untuk mencoba membuat desain motif batik.
“Karena saya memang lulusan SMK desain dan suka menggambar, saya diajak untuk mencoba. Kebetulan Ibu Eka tahu saya bisa menggambar. Dari situ, saya mulai dikenalkan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan desain dan motif batik,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Kini, aktivitas yang awalnya dijalani sebagai kesempatan untuk menyalurkan hobi telah berkembang menjadi kegiatan produktif yang menghasilkan pendapatan.
Syafira menjadi salah satu gambaran bagaimana kreativitas anak muda di desa dapat berkembang menjadi peluang ekonomi sekaligus mendukung pendidikan. Melalui keterampilan desain dan keterlibatannya dalam kerajinan batik, ia mampu memperoleh pengalaman berharga serta membantu memenuhi kebutuhan selama masa kuliah.
Kisahnya juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berhenti pada upaya menjaga warisan tradisi. Ketika dipadukan dengan kreativitas, pendampingan, dan peluang pasar, batik dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkarya, mandiri, dan membangun masa depan.
Bagi Syafira, batik kini bukan sekadar kain bermotif tradisional. Kerajinan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, mengubah hobi menggambar menjadi sumber penghasilan, sekaligus menjadi salah satu jalan yang membantunya meraih gelar sarjana.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar