16/10/26

Metode Batch Drilling Berhasil, Dua Sumur PHR Zona 4 di Gunung Kemala Lampaui Target Produksi


PRABUMULIH, RUBRIKTERKINI — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 mencatat hasil produksi awal yang menjanjikan dari kegiatan pengeboran sumur di kawasan Gunung Kemala, wilayah kerja Field Prabumulih. Salah satu sumur yang dikembangkan melalui metode batch drilling, yakni GNMPD 80, mampu menghasilkan produksi minyak yang jauh melampaui target awal perusahaan.


Assistant Manager Drilling Operation Area 2 PHR Zona 4, Anton Budi Prasetio, menjelaskan bahwa pengembangan sumur Gunung Kemala dilakukan dengan konsep batch drilling yang mencakup lima sumur dalam satu area pengeboran.


Metode tersebut memungkinkan pengeboran sejumlah sumur yang berdekatan dilakukan secara berurutan dengan mengoptimalkan perpindahan rig atau menara pengeboran dari satu titik ke titik lainnya.


“Batch drilling merupakan konsep pengeboran sekelompok sumur yang berdekatan secara berurutan. Dengan metode ini, waktu pengeboran dapat dipersingkat, efisiensi operasional meningkat, dan risiko operasional bisa diminimalkan,” jelas Anton dalam pemaparan proyek pengeboran Gunung Kemala, Kamis 15/10/2026.


Menurutnya, lima sumur tersebut dikembangkan dengan skenario pengeboran 2-1-2. Pola ini diterapkan untuk mengatur tahapan pekerjaan agar pergerakan rig lebih efisien tanpa harus selalu merobohkan menara pengeboran ketika berpindah antarsumur.


Jarak antarsumur yang relatif berdekatan, sekitar tujuh meter, turut mendukung penerapan metode tersebut. Dengan demikian, kegiatan pengeboran dapat dilakukan secara terintegrasi dalam satu klaster.


Selain efisiensi waktu dan biaya, pendekatan ini juga ditujukan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan pekerjaan sekaligus mengendalikan risiko selama proses pengeboran.




GNMPD 80 Rampungkan Pengeboran Lebih Cepat


Anton mengungkapkan, GNMPD 80 menjadi sumur pertama dalam rangkaian pengembangan lima sumur di Gunung Kemala. Sumur tersebut menggunakan metode directional drilling atau pengeboran berarah dengan lintasan berbentuk S (S-type).


Teknik pengeboran berarah memungkinkan sumur diarahkan menuju sasaran bawah permukaan yang telah ditentukan, meskipun titik pengeborannya berada dalam satu klaster dengan sumur lainnya.


Dalam pelaksanaannya, pengeboran GNMPD 80 menggunakan empat bagian atau section dengan ukuran lubang dan selubung sumur (casing) yang berbeda sesuai desain teknis.


Setelah tahapan pengeboran selesai, sumur tersebut dikembangkan menggunakan sistem dual completion. Teknologi ini memungkinkan satu sumur memproduksikan minyak dari dua zona reservoir yang berbeda melalui dua jalur produksi yang terpisah.


Berdasarkan pemaparan Anton, penyelesaian pengeboran GNMPD 80 menunjukkan efisiensi yang signifikan dibandingkan rencana awal.


Dari target waktu pengeboran selama 71 hari, realisasi pekerjaan dapat diselesaikan dalam 55 hari. Dengan demikian, waktu pengerjaan berkurang sekitar 16 hari dari jadwal yang direncanakan.


Selain penghematan waktu, proyek tersebut juga mencatat efisiensi biaya sekitar 24 persen dibandingkan rencana anggaran awal.


Capaian tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode batch drilling yang dipadukan dengan perencanaan teknis sumur dapat mendukung peningkatan efisiensi kegiatan pengeboran.






Produksi Awal Minyak Lampaui Target


Hasil yang menonjol terlihat pada produksi awal GNMPD 80. Anton memaparkan, sumur tersebut menghasilkan minyak melalui dua jalur produksi, yakni long string dan short string, yang masing-masing mengalirkan minyak dari zona reservoir berbeda.


Pada jalur long string, produksi awal tercatat sekitar 2.873 barel minyak per hari (barrels of oil per day/BOPD). Sementara itu, jalur short string menghasilkan sekitar 2.737 BOPD.


Dengan demikian, total produksi awal kedua jalur tersebut mencapai sekitar 5.610 BOPD berdasarkan penjumlahan angka yang dipaparkan.


Anton juga menyampaikan bahwa kandungan air dalam produksi dari kedua jalur tersebut relatif rendah. Water cut pada jalur long string tercatat sekitar 0,5 persen, sedangkan pada short string dilaporkan nol persen.


Capaian produksi tersebut menjadi hasil yang menggembirakan bagi pengembangan sumur Gunung Kemala. Pasalnya, perkiraan target awal produksi GNMPD 80 sebelumnya berada pada kisaran 212 BOPD.


“Ini yang menjadi kejutan. Untuk sumur ini, produksi yang kita dapatkan jauh di atas target awal. Mudah-mudahan potensinya bisa bertahan sehingga dapat menopang kebutuhan minyak nasional,” ujar Anton.


Ia menambahkan, hasil produksi awal tersebut menjadi salah satu indikator potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Namun, keberlanjutan tingkat produksi tetap bergantung pada kondisi reservoir dan hasil evaluasi produksi berikutnya.



Sumur GNMPD 66 Produksi 2.423 BOPD


Selain GNMPD 80, pengembangan Gunung Kemala juga mencakup GNMPD 66 yang menggunakan sistem single completion atau satu jalur produksi.


Berbeda dengan dual completion yang memungkinkan produksi dari dua zona melalui dua jalur terpisah, single completion menggunakan satu jalur produksi sesuai desain penyelesaian sumur.


Dalam pemaparan proyek, Anton menyebutkan bahwa GNMPD 66 mencatat produksi awal sekitar 2.423 BOPD, melampaui perkiraan target awal sebesar 220 BOPD.


Produksi gas dari sumur tersebut dilaporkan mencapai sekitar 1,9 juta kaki kubik standar per hari, sedangkan water cut tercatat nol persen pada saat pengukuran awal.


Hasil tersebut menambah catatan positif dari pengembangan sumur di kawasan Gunung Kemala. Meski demikian, angka produksi awal masih perlu dipantau untuk mengetahui kemampuan sumur mempertahankan laju produksi dalam jangka panjang.




Pengeboran Lima Sumur Dilakukan Bertahap


Anton menjelaskan, program pengembangan Gunung Kemala dirancang melalui beberapa tahapan pengeboran, mulai dari pembukaan lubang awal hingga pemasangan casing dan penyelesaian sumur.


Pada saat pemaparan, kegiatan pengeboran untuk sumur GNMPD 68 masih berlangsung pada bagian lubang berukuran 17,5 inci, dengan perkiraan kedalaman titik pemasangan casing sekitar 700 meter.


Pengeboran berikutnya akan dilaksanakan sesuai urutan kerja yang telah ditentukan. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari strategi batch drilling untuk memastikan perpindahan rig dan penyelesaian setiap sumur berjalan lebih efektif.


Melalui pengembangan lima sumur dalam satu klaster, PHR Zona 4 berupaya mengoptimalkan potensi hidrokarbon di wilayah kerja Field Prabumulih sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan operasi.


Keberhasilan produksi awal GNMPD 80 dan GNMPD 66 diharapkan menjadi modal penting bagi kelanjutan pengembangan sumur lainnya di Gunung Kemala.


Upaya tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi industri hulu minyak dan gas bumi dalam mendukung peningkatan produksi minyak nasional, dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan, efisiensi, dan keandalan operasi.


Editor:Heru 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar