PRABUMULIH, RUBRIKTERKINI – Menyusul pemberitaan mengenai keluhan masyarakat Desa Baru Rambang dan Desa Sinar Rambang terkait dampak crater (kawah) yang diduga berkaitan dengan aktivitas migas di wilayah tersebut, PT Pertamina EP (PEP) Limau Field menyampaikan penjelasan resmi sebagai hak jawab atas berbagai informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Senior Manager Pertamina EP Limau Field, Abdul Rachman Para Buana melalui Dhio Faiz selaku humas menyatakan pihaknya mengapresiasi warga dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Muara Enim yang telah bekerja sama dalam penanganan crater yang berada di Desa Baru Rambang, Kecamatan Rambang, Kabupaten Muara Enim.
Menurutnya, fenomena crater merupakan hal yang kerap ditemukan di industri migas, terutama pada wilayah yang memiliki potensi kandungan minyak dan gas bumi seperti di Pulau Sumatera.
"Crater ini menimbulkan rembesan berupa fluida seperti minyak, gas alam atau air formasi dari dalam perut bumi ke permukaan secara perlahan (seepage)," jelas Abdul Rachman Para Buana dalam keterangan resminya saat dikonfirmasi, Senin (22/06/2026).
Ia juga menegaskan bahwa setelah menerima laporan dari masyarakat, Pertamina EP Limau Field segera melakukan pengecekan lapangan dan mengambil langkah-langkah yang dianggap diperlukan untuk menghentikan rembesan, mengamankan area, serta melakukan pembersihan pada lokasi yang terdampak.
Selain itu, perusahaan menyatakan masih terus berupaya mencari penyebab pasti munculnya crater tersebut dan berkomitmen menemukan solusi terbaik untuk penanganannya.
"Saat ini kami akan terus berupaya menemukan penyebab dan terus mencari solusi paling tepat dalam menanggulangi crater. Kami juga akan selalu berkoordinasi dengan DLH Muara Enim," ujarnya.
Pertamina EP Limau Field juga menegaskan komitmennya untuk menjaga operasi migas yang selamat, andal, serta mendukung keberlanjutan produksi energi nasional.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab sejumlah tuntutan yang sebelumnya disampaikan masyarakat terdampak.
Dalam berbagai pertemuan, warga meminta adanya kepastian terkait pemulihan lingkungan, kompensasi terhadap lahan yang terdampak, pembebasan lahan pada titik crater, hingga pembukaan akses normalisasi aliran sungai. Hingga berita ini ditulis, masyarakat mengaku masih menunggu langkah konkret dan keputusan resmi perusahaan terkait tuntutan tersebut.
Di sisi lain, pernyataan Pertamina yang menyebut fenomena crater sebagai kejadian yang umum terjadi di wilayah migas juga memunculkan pertanyaan baru di tengah masyarakat.
Warga menilai bahwa yang menjadi persoalan utama bukan semata keberadaan crater, melainkan dampak yang ditimbulkan terhadap lahan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat yang hingga kini masih dirasakan.
Karena itu, publik kini menantikan tindak lanjut yang lebih konkret dari perusahaan, bukan hanya terkait penyelidikan penyebab crater, tetapi juga mengenai penyelesaian dampak yang telah dikeluhkan warga selama beberapa tahun terakhir.
Masyarakat berharap koordinasi yang disebutkan perusahaan bersama DLH Muara Enim dapat menghasilkan langkah nyata yang memberikan kepastian, baik terhadap pemulihan lingkungan maupun hak-hak warga terdampak.
Editor: Heru


Tidak ada komentar:
Posting Komentar