27/10/26

Sopir Angkutan Pasir dan Batu Keluhkan Pembatasan Solar di SPBU Lingkar Timur Prabumulih


PRABUMULIH, RUBRIKTERKINI — Sejumlah sopir kendaraan pengangkut pasir dan batu mengeluhkan dugaan pembatasan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di SPBU Lingkar Timur, Kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih. Keluhan tersebut mencuat pada Senin (26/10/2026) dan memicu pertanyaan di kalangan sopir terkait aturan pengisian BBM di SPBU tersebut.


ST (40), warga Prabumulih, mengaku tidak diperbolehkan mengisi solar saat mendatangi SPBU Lingkar Timur. Menurutnya, operator menyampaikan adanya pembatasan pengisian BBM bagi kendaraan yang digunakannya.


“Ya, kemarin saya mengisi di SPBU Lingkar Timur, tetapi kami tidak diperbolehkan oleh operator karena ada pembatasan. Sehingga kami bertanya-tanya, apa kendala yang terjadi di SPBU Lingkar ini,” ungkap ST kepada media ini, Selasa (27/10/2026).


Ia mengatakan, para sopir angkutan pasir dan batu telah membicarakan persoalan tersebut. Mereka menginginkan kejelasan mengenai aturan yang menjadi dasar pembatasan pengisian solar.


ST menyebut, para sopir bahkan mempertimbangkan untuk menggelar aksi unjuk rasa apabila persoalan tersebut tidak mendapat penjelasan yang memadai.


“Kalau tidak boleh lagi mengisi, kami para sopir akan mengadakan demo untuk meminta kejelasan aturan di SPBU Lingkar,” tegasnya.


Sementara itu, Pengawas SPBU Lingkar Timur, Ferdi, mengatakan pihaknya tidak memberlakukan pembatasan pengisian solar terhadap kendaraan pengangkut pasir maupun batu.


“Saya baru bekerja di sini. Selama saya bekerja, kami tidak pernah membatasi mobil pengangkut pasir ataupun batu untuk mengisi,” jelas Ferdi.


Ia menerangkan, kendaraan yang tidak diperbolehkan mengisi solar dalam kondisi tertentu adalah kendaraan pengangkut seperti towing atau trailer yang sedang membawa mobil.


Menurut Ferdi, kendaraan tersebut diperbolehkan mengisi solar setelah muatan yang diangkut diturunkan terlebih dahulu.


“Boleh mengisi BBM solar, mobil-mobil tersebut, tetapi harus menurunkan dulu angkutannya, baru boleh,” jelasnya.


Pernyataan pengawas SPBU tersebut berbeda dengan pengalaman yang disampaikan sejumlah sopir. Kondisi ini membuat para sopir berharap ada penjelasan lebih lanjut agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai ketentuan pengisian solar di SPBU Lingkar Timur.


Ketua Umum APM, Adi Susanto, SE, turut menyampaikan keberatan atas dugaan pembatasan tersebut. Ia menilai persoalan ini perlu mendapat perhatian karena berpotensi menghambat aktivitas masyarakat, khususnya pelaku usaha angkutan material pasir dan batu.


Menurut Adi, kendaraan angkutan merupakan salah satu sarana masyarakat untuk mencari nafkah. Oleh sebab itu, ketersediaan BBM menjadi kebutuhan penting untuk menunjang kelancaran kegiatan pengangkutan material sehari-hari.


“Kalau tidak bisa membeli BBM di sana, lantas harus membeli ke mana lagi? Jangan mempersulit masyarakat untuk membeli BBM. Kita harus memahami bahwa para sopir merupakan warga lokal yang sedang mencari nafkah,” tegas Adi.


Ia juga meminta agar persoalan tersebut diperjelas sehingga para sopir mengetahui ketentuan yang berlaku dan tidak mengalami kebingungan ketika hendak mengisi BBM.


Adi selanjutnya menduga adanya kemungkinan praktik yang perlu ditelusuri terkait pengisian solar di SPBU tersebut. Namun, dugaan itu belum disertai bukti yang dapat memastikan adanya pelanggaran oleh pihak tertentu.


“Patut diduga adanya permainan antara operator dan pembeli BBM solar yang membuat para sopir pencari nafkah tidak diperbolehkan melakukan pengisian atau pengisian dibatasi,” ujarnya.


Atas persoalan tersebut, Adi menyatakan pihaknya bersama para sopir berencana menggelar aksi unjuk rasa di SPBU Lingkar Timur. Aksi itu dimaksudkan untuk meminta penjelasan mengenai aturan pengisian solar yang dikeluhkan para pengemudi angkutan.


“Kami akan melakukan demo di SPBU Lingkar Timur untuk mengetahui kejelasan atas pembatasan pengisian BBM solar yang dikeluhkan oleh para sopir,” pungkasnya.


Editor:Heru 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar