PRABUMULIH, RUBRIKTERKINI — Di balik lantunan ayat suci yang selama ini menggema dari sebuah mushola kecil di Kota Prabumulih, tersimpan kisah pilu seorang guru ngaji yang telah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun. Namun pengabdian itu justru berujung kekecewaan yang mendalam.
Dawiyah (52), seorang guru ngaji tradisional di Mushola Nurul Iman, Jalan Gurati 2, RT 03 RW 03, Kelurahan Arimbi Jaya, Kecamatan Prabumulih Timur, harus menelan kenyataan pahit setelah mengetahui namanya tidak lagi terdaftar sebagai penerima insentif dari Dinas Sosial Kota Prabumulih.
Kabar itu ia terima tepat pada hari pembayaran insentif, Jumat (13/3/2026). Hari yang seharusnya menjadi penantian penuh harapan setelah bertahun-tahun mengabdikan diri mengajar ibu-ibu dan lansia mengaji, justru berubah menjadi momen yang menyayat hati.
Selama tujuh tahun terakhir, Dawiyah dengan sabar dan ikhlas mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada ibu-ibu dan Lansia di mushola tersebut. Setiap minggu ia datang, membimbing para santri membaca huruf demi huruf, tanpa pernah mengeluh.
Penantian insentif itu, menurutnya, bukan sekadar soal uang. Lebih dari itu, insentif tersebut adalah bentuk penghargaan atas pengabdian yang ia jalani dengan penuh keikhlasan.
Namun harapan itu seakan runtuh seketika.
“Ibu sudah 7 tahun mengajar. Setiap minggu ibu mengajar. Tapi saat dengar informasi dari Dinas Sosial katanya nama ibu tidak terdaftar,” ungkap Dawiyah dengan suara lirih.
Ia mengaku baru mengetahui hal tersebut setelah menanyakan langsung kepada pegawai Dinas Sosial melalui pesan WhatsApp pada Jumat pagi.
“Tadi pagi saya tanya lewat WhatsApp. Dijawab, ‘maaf Bu, nama ibu tidak ada untuk guru ngaji tradisional Mushola Nurul Iman’,” tuturnya.
Dari penjelasan yang ia terima, tahun ini Dinas Sosial hanya menetapkan satu masjid dan satu guru ngaji sebagai penerima usulan dari pihak kelurahan maupun desa.
Kondisi itu membuat Dawiyah merasa sangat terpukul. Terlebih lagi, pemberitahuan tersebut baru ia ketahui saat hari pencairan insentif telah tiba.
Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku sangat menyayangkan sikap pihak terkait yang tidak memberikan informasi lebih awal.
“Seharusnya pihak Kelurahan dan Dinas Sosial memberitahukan kepada saya dari awal bahwa saya tidak lagi terdaftar. Saya ini sudah tujuh tahun mengajar ngaji, maka saya tidak terlalu berharap,” ucapnya dengan nada pilu.
Di tengah kesederhanaan mushola tempat ia mengajar, Dawiyah tetap datang setiap minggu untuk membimbing ibu-ibu dan para lansia belajar Al-Qur’an. Meski kini hatinya diliputi rasa sedih, semangatnya terus berkobar untuk terus mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat Kota Prabumulih.
Editor:Heru




Tidak ada komentar:
Posting Komentar